Berdasarkan jenis kelamin, Prevalensi PJK lebih tinggi pada perempuan (1,6%) dibandingkan pada laki-laki (1,3%). Sedangkan jika dilihat dari sisi pekerjaan, ironisnya penderita Penyakit Jantung tertinggi terdapat pada aparat pemerintahan, yaitu PNS/TNI/Polri/BUMN/BUMD dengan prevalensi 2,7%.
Begitu pula, jika dilihat dari tempat tinggal, penduduk perkotaan lebih banyak menderita Penyakit Jantung dengan prevalensi 1,6% dibandingkan penduduk perdesaan yang hanya 1,3%.
Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014 menunjukkan PJK merupakan penyebab kematian tertinggi kedua setelah stroke, yaitu sebesar 12,9% dari seluruh penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Data BPJS menunjukkan adanya peningkatan biaya kesehatan untuk PJK dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014 PJK menghabiskan dana BPJS sebesar 4,4 Triliun Rupiah, kemudian meningkat menjadi 7,4 Triliun Rupiah pada tahun 2016 dan masih terus meningkat pada tahun 2018 sebesar 9,3 Triliun.
Hal ini menunjukkan besarnya beban negara terhadap penanggulangan PJK, yang seharusnya dapat dikendalikan dengan mengendalikan faktor risiko.
Mencegah dengan CERDIK dan Mengendalikan dengan PATUH
Dalam pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular termasuk PJK, pemerintah fokus pada upaya promotif dan preventif dengan tidak meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif. Diantaranya dengan:
Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017, yang tahun ini difokuskan pada kegiatan deteksi dini, peningkatan aktivitas fisik serta konsumsi buah dan sayur;
Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, sejalan dengan agenda ke-5 Nawacita yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia yang dimulai dari keluarga, diantaranya penderita hipertensi berobat teratur dan tidak ada anggota keluarga yang merokok;
Meningkatkan gaya hidup sehat dengan perilaku “CERDIK”, yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres;
Melakukan pola hidup “PATUH” bagi penyandang PTM khususnya PJK, yaitu Periksa kesehatan secara rutin, Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat, Tetap aktivitas fisik dengan aman, Upayakan diet sehat dan gizi seimbang, Hindari asap rokok, minuman beralkohol dan zat karsinogenik lainnya.
“JANTUNG SEHAT, SDM UNGGUL”
Kementerian Kesehatan juga mengajak semua untuk melakukan perubahan sederhana dalam aktivitas sehari-hari dengan menghidupkan perilaku CERDIK agar mendapatkan jantung yang sehat dengan tagline “JANTUNG SEHAT, SDM UNGGUL”.
Dengan kesadaran diri dan sekitar akan penyakit jantung diharapkan setiap individu secara tidak langsung berkontribusi untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat penyakit tersebut. Melalui kesadaran ini kiranya terjaga kelompok usia produktif dari kematian dini akibat penyakit yang menjadi penyebab beban ekonomi dan sosial terhadap masyarakat.
Tentunya dengan jantung yang sehat pada diri, kerabat dan teman-teman maka telah diawali langkah memperoleh SDM unggul yang produktif dan sehat yang merupakan modal utama pembangunan bangsa. (Sumber : p2ptm.kemkes.go.id)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pengobatan Jantung Koroner Secara Alami
Berbagai pengobatan untuk penyakit, seperti penyakit jantung koroner, bisa diiringi dengan konsumsi makanan di sekitar Anda. Beberapa nutris...
-
Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto pada Rabu (11/9) setelah menjalani perawatan intensif. BJ...
-
Orang Indonesia lebih berpotensi mengalami penyakit jantung akibat pola makan dan gaya hidup. Hal itu dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal ...
-
Mengonsumsi makanan sehat untuk jantung dan menjalani pola hidup sehat dapat membuat Anda terhindar dari risiko terkena penyakit jantung dan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar